Melanjutkan bahasan sebelumnya tentang Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran, maka tulisan kali ini membahas hal yang sama tentang teori belajar yakni Proses Belajar menurut Teori Belajar Kontruktivisme.

Pengalaman menunjukkan, tidak jarang kita salah paham atau salah mengerti ketika menyimak penjelasan guru pada saat mengikuti proses pembelajaran. Fenomena ini mendukung paham penganut teori belajar Kontruktivisme bahwa dalam perolehan pengetahuan kita membentuk (mengkonstruksi) sendiri pengetahuan kita.

Teori belajar konstruktivisme ini disebut juga dengan teori konstruktivsitik. Proses belajarnya-pun bisa disebut belajar konstuktivisme yang mudahan dapat kita pahami dalam tulisan berikut ini.

 

Pengetian Belajar menurut Teori Konstuktivisme

Kontruktivisme berasal dari kata kontruksi yang berarti “membangun”. Ketika masuk ke dalam kontek filsafat pendidikan maka kontruksi itu diartikan dengan upaya dalam membangun susunan kehidupan yang berbudaya maju.

Gagasan tentang teori ini sebenarnya buhkan hal baru, karena segala hal yang dilalui di kehidupan merupakan himpunan dan hasil binaan dari pengalaman yang menyebabkan pengetahuan muncul dalam diri seseorang.

Teori kontruktivisme mendefinisikan belajar sebagai aktivitas yang benar-benar aktif, dimana peserta didik membangun sendiri pengetahuannya, mencari makna sendiri, mencari tahu tentang yang dipelajarinya dan menyimpulkan konsep dan ide baru dengan pengetahuan yang sudah ada dalam dirinya.

 

Prinsip Teori Belajar Konstruktivisme

Beberapa karakteristik dan juga merupakan prinsip dasar teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan strategi untuk mendapatkan dan menganalisis informasi.
  2. Pengetahuan terbentuk bukan hanya dari satu prespektif, tapi dari perspektif jamak (multiple perspective).
  3. Peran peserta didik utama dalam proses pembelajaran, baik dalam mengatur atau mengendalikan proses berpikirnya sendiri maupun untuk ketika berinteraksi dengan lingkungannya.
  4. Scaffolding digunakan dalam proses pembelajaran. Scaffolding merupakan proses memberikan tuntunan atau bimbingan kepada peserta didik untuk dikembangkan sendiri.
  5. Pendidik berperan sebagai fasilitator ,tutor dan mentor untuk mendukung dan membimbing belajar peserta didiknya.
  6. Pentingnya evaluasi proses dan hasil belajar yang otentik.

 

Tokoh-tokoh Teori Belajar Konstruktivisme

  1. Driver dan Bell

Mereka berdua berpendapat bahwa karakteristik teori belajar Konstruktivisme adalah sebagai berkut:

  1. Peserta didik dipandang sebagai pasif, tetapi memiliki tujuan;
  2. Keterlibatan peserta didik seoptimal mungkin dalam pembelajaran;
  3. Pengetahuan tidak datang dari luar tetapi dikonstruksi oleh peserta didiknya sendiri;
  4. Pembelajaran bukan berupa transfer pengetahuan, tetapi melibatkan pengendalian dan rekaya kondisi dan situasi kelas
  5. Kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat sumber yang harus dikembangkan.
  1. J. Piaget

Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis, menegaskan bahwa pengetahuan dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi yang baru.  Sedangkan akomodasi adalah sesuatu yang disediakan untuk kebutuhan penyusunan stuktur informasi yang lama maupun informasi baru, baik tempat maupun kebutuhan lain.

Ada 3 (Tiga) hal pokok yang berkaitan antara tahap perkembangan intelektual dengan  tahap perkembangan konstruktivisme mental (kognitif), yaitu sebagai berikut:

  1. Intelektual berkembang melalui tahapan yang beruntun dengan urutan yang selalu sama.
  2. Perkembangan intelektual dianggap sebagai suatu cluster yang bisa dikelompokkan berpatokan pada operasi mental;
  3. Tahap-tahap perkembangan ini dilengkapi oleh keseimbangan (equilibrium), proses perkembangan antar pengalaman yang terinteraksi (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
  1. Vigotsky

Vigotsky memahami bahwa belajar dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial.  Proses belajar seseorang dengan discovery lebih mudah apabila dalam konteks sosial budaya.

Inti kognitivisme-nya Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dengan eksternal yang terjadi pada lingkungan sosial.

  1. Tasker

Teori belajar kontruktivisme Tasker menekankan bahwa ada tiga hal yang harus ada dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut:

  1. Peran aktif peserta didik dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna.
  2. Kaitan antar ide-ide baru sangat penting dalam pengkonstuksian
  3. Mengaitkan antara informasi yang baru diterima dengan gagasan-gagasan yang dikembangkan
  1. Wheatley

Wheatley mendukung teori belajar kontruktivisme dengan mengajukan 2 (Dua) prinsip utama dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif tetapi secara aktif oleh struktur koqnitif peserta didik;
  2. Kognisi berfungsi adaptif dan membantu pengorganisasian pengalaman nyata untuk dikembangkan dalam proses belajar.
  1. Hanbury

Hanbury mengemukakan beberapa aspek berlandaskan teori belajar kontruktivisme ini yang sebagai berikut:

  1. Belajar melalui pengkonstruksian informasi dan ide yang dimiliki
  2. Pembelajaran menjadi bermakna apabila peserta didik mengerti;
  3. Strategi peserta didik lebih bernilai;
  4. Peserta didik berkesempatan untuk diskusi dengan sesamanya.

 

Proses belajar menurut teori belajar konstruktivisme

Pada bagian ini akan kita dibahas proses belajar dari pandangan teori belajar konstruktivisme dari aspek-aspek peserta didik, peran guru, sarana belajar dan evaluasi belajar

Proses Belajar Konstruktivistik

Proses belajar konstuktivistik berupa “…Constructing and restructuring of knowledge and skills within the individual in a complex network of increasing conceptual consistently”. Membangun dan merestrukturisasi pengetahuan dan keterampilan individu dalam lingkungan sosial dalam upaya peningkatan konseptual secara konsisten. Oleh sebab itu pengelolaan pembelajaran harus diutamakan pada pengelolaan peserta didik dalam memproses gagasannya bukan semata-mata olahan peserta didik dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti nilai ijazah dan sebagainya.

Penerapan teori belajar Konstruktivisme sering digunaka pada model pembelajaran pemecahan masalah (problem solving seperti pembelajaran menemukan (discovery learning) dan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning).

Peranan Peserta Didik

Peserta didik harus aktif melakukan kegiatan aktif berpikir menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang pelajari. Guru memang menjadi andil dalam memprakarsai penataan lingkungan dan memberi peluang belajar yang optimal. Tetapi pada akhirnya peserta didiklah yang menentukan sendiri terwujudnya belajar yang sepenuhnya itu.

Paradigma konstruktivistik memandang peserta didik sebagai pribadi yang memiliki kemampuan awal sebagai modal dasar sebelum belajar dalam mengkonstuksi pengetahuan yang baru, oleh sebab itu meskipun kemampuan awal tersebut masih sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.

Peranan Guru

Guru membantu peserta didiknya agar proses pengkonstuksian pengetahuan berjalan lanjar. Guru tidak mentransfer pengetahuan melainkan membantu peserta didiknya untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru harus bisa memahami cara pandang belajar peserta didiknya.

Kunci peranan guru dalam proses belajar adalah pengendalian yang meliputi sebagai berikut;

  1. Menumbuhkan kemampuan peserta didik dalam mengambil keputusan dan bertindak.
  2. Menumbuhkan kemandirian peserta didik dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
  3. Mendukung dan memberikan kemudahan belajar agar peserta didik mempunyai peluang yang optimal.

Sarana Belajar

Segala sesuatu seperti , media, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan pengetahuan.

Yang dipahami dalam teori belajar konstruktivisme bahwa pembentukan pengetahuan itulah yang menjadi inti dalam teori belajar ini. Peserta didik diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya dengan cara demikian peserta didik akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri memecahkan masalah yang dihadapinya mandiri kritis kreatif dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.

Evaluasi Belajar

Dari awal sampai akhir dalam prosesnya pembelajaran menurut teori belajar konstruktivisme ini akan ada beberapa hal, mulai dari sarana, kemampuan awal peserta didik, guru dan hasil belajar peserta didik. Sejauhmana pembelajaran berlangsung menimbulkan pemikiran untuk mengevaluasi, terutama evaluasi belajar peserta didik.

Bentuk-bentuk evaluasi konstruktivistik dapat diarahkan pada tugas-tugas mengkonstruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berpikir yang lebih tinggi seperti tingkat “penemuan” pada taksonomi Merrill atau strategi “prinsip” pada Gagne serta “sintesis” pada Taksonomi Bloom. Juga mengkonstruksikan pengalaman peserta didik dan mengarahkannya pada konteks yang luas dengan berbagai sudut pandang.

 

Demikian  tulisan ini tentang proses belajar menurut teori belajar konstuktivsime. Semoga bermanfaaat bagi rekan guru sekalian.