Setelah sebelumnya kita telah membahas teori belajar behavioristik dan teori belajar konstruktivisme maka perlu kita ketahui perbedaan teori behavioristik dan teori konstruktivisme tersebut. Dan kita pun telah mengetahui bahwa menguasai teori-teori termasuk dalam kompetensi pedagogik guru yang menjadi salah satu syarat apabila ingin menjadi guru yang profesional.

Perbedaan antara teori behavioristik dan konstruktivisme bermula pada dasarnya sampai kepada penerapannya dalam pembelajaran dan pendidikan pada umumnya.

Apabila kita mengetahui inti dari kegiatan belajar yang sesungguhnya maka kita akan bisa mengoptimalkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif.

 

Ciri-Ciri Pembelajaran Behavioristik dan Pembelajaran Konstruktivistik

Untuk dapat membedakan pelaksanaan teori behaviostik dan konstuktivistik maka kita pahami dulu ciri-ciri keduanya.

Ciri-Ciri Pembelajaran Behavioristik

Dari dulu pembelajaran yang berlangsung didominasi oleh guru, pembelajaran ini berlandaskan pada teori belajar behavioristik. Oleh karena itu pembelajaran behavioristik disebut juga dengan pembelajaran tradisional.

Pembelajaran tradisional atau behavioristik berlangsung dengan cara guru berceramah menyampaikan materi pembelajaran dan peserta didik duduk manis mendengarkannya. Gurupun banyak bergantung pada buku teks, sehingga materi yang disampaikan sesuai urutan isi buku tersebut. Peserta didik disuruh mendengarkan paparan materi buku teks kadang sesekali mencatat, diharapkan dari pembelajaran itu peserta didik memiliki pandangan sesuai buku teks atau sama dengan pandangan guru.

Pembelajaran behavioristik ini adalah berpeluang kecil menghasilkan perbedaan cara pandang ntara guru dan peserta didik. Fenomena sosial terhadap alternatif-alternafif perbedaan cara pandang dan pikir tidak dipertimbangkan. Peserta didik belajar dalam isolasi, pembelajaran ini masih dalam kemampuan kognitif tingkat rendah dengan melengkapi buku tugas setiap harinya.

Ketika ada pertanyaan, apakah guru bertanya kepada peserta didik atau sebaliknya, guru tidak mengidentifikasi adanya kemungkinan cara pandang peserta didik dalam menhadapi suatu masalah, melainkan guru hanya melihat apakah peserta didik paham tentang sesuatu yang dianggap benar oleh gurunya.

Pembelajaran seperti ini berdasarkan pada konsep-konsep atau gagasan yang kaku karena sudah baku atau dianggap pasti. Pembangunan sendiri atau konstuksi pengetahuan peseta didik tidak dihargai sebagai proses pembelajaran yang koordinatif.

Ciri-Ciri Pembelajaran Konstruktivistik

Bentuk pembelajaran kontruktivistik tentunya berbeda pembelajaran pembelajaran behavioristik.  Pembelajaran konstuktivistik membantu peserta didik untuk menginternalisasi dan mengtransformasi informasi baru yang dimilikinya. Terjadinya transformasi apabila menghasilkan pengetahuan baru lalu akan membentuk struktur kognitif baru.

Pandangan teori ini tentang belajar melihat kepada apa yang dihasilkan oleh peserta didik, kemudian didemonstrasikan atau ditunjukkan. Sehingga tidak melihat kepada apa yang bisa diungkapkan oleh peserta didik dan dapat diulangnya ungkapan itu melalui jawaban soal-soal tes yang sebelumnya diajarkan.

 

Perbedaan Teori Behavioristik dan Konstruktivistik dalam Pelaksanaa Pembelajaran

Perbedaan dalam pembelajaran antara keduanya dirincikan sebagai berikut;

Pembelajaran Behavioristik dalam Pembelajaran

  1. Menekankan pada keterampilan-keterampilan dasar peserta didik mulai dari bagian-bagian menuju keseluruhan kurikulum yang disajikan.
  2. Taat kepada kurikulum yang ditetapkan.
  3. Kegiatan pembelajaran banyak mengandalkan pada buku teks dan soal-soal.
  4. Peserta didik dianggap sebagai kertas putih kosong yang dapat dicoret apapun oleh guru dan umumnya guru menggunakan cara diktaktik dalam memberikan informasi kepada peserta didiknya.
  5. Hasil belajar peserta didik menjadi bagian dari pembelajaran dan dilakukan ketika pembelajaran berakhir.
  6. Peserta didik bekerja sendirian tanpa ada kelompok belajar dan diskusi.

Pembelajaran Konstruktiivistik dalam Pembelajaran

  1. Mendekatkan peserta didik pada konsep-konsep yang lebih kompleks dan luas mulai dari keseluruhan menuju bagian-bagian kurikulum yang disajikan.
  2. Proses pembelajaran berjalan dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan dan ide-ide yang bervariatif.
  3. Kegiatan pembelajaran mengandalkan berbagai sumber dan manipulasi media belajar.
  4. Peserta didik dianggap sebagai pemikir yang memunculkan pendapat dan teori-teorinya sendiri.
  5. Selain hasil belajar, proses belajar juga menjadi ukuran dan keduanya menjadi kesatuan kegiatan pembelajaran dengan cara guru mengamati peserta didik serta melalui LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik).
  6. Peserta didik bekerja dan belajar dengan berkelompok dan diskusi.

 

Demikian perbedaan pembelajaran yang menerapkan teori belajar behaviorisme dan teori belajar konstruktivisme, semoga bermanfaat bagi kita semua. Selanjutkan akan datang kita membahas teori  belajar kognitif. Dengan harapan kita sebagai guru sekolah dasar menjadi guru yang profesional demi kemajuan pendidikan di negara kita.