Menguasai teori-teori belajar merupakan cabang dari kompetensi pedagogik guru yang harus dimiliki seorang guru yang profesional. Untuk itu kita perlu memahami teori-teori belajar tersebut, salah satunya adalah teori belajar Behavioristik. Setelah memahami teorinya lalu kita mampu melakukan penerapan teori belajar behavioristik dalam pembelajaran sebagaimana yang akan kita bahas berikut ini.

Teori belajar behavioristik merupakan teori belajar yang paling awal dikenal dan masih terus berkembang sampai sekarang. Pembelajaran yang dirancang oleh tenaga pendidik di seluruh dunia sadar ataupun tidak sadar saat ini masih berlandaskan pada teori belajar behavioristik. Pemahaman yang baik tentang teori belajar behavioristik akan dapat membantu tenaga pendidik untuk merancang dan melaksakan pembelajaran secata sistematis dan ilmiah berlandaskan kaidah ilmu, yaitu teori belajar behavioristik.

 

Apa yang dimaksud Teori Belajar Behavioristik?

Gage dan Berliner mencetuskan sebuah teori yang isinya bahwa tingkah laku merupakan hasil dari pengalaman. Teori ini mempengaruhi perkemabangan teori belajar dan pelaksanaannya dalam pembelajaran yang disebut sebagai teori belajar behavioristik.

Teori behavioristik mendifinisikan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku, khususnya perubahan kapasitas siswa untuk berperilaku (yang baru) sebagai hasil belajar, bukan sebagai hasil proses pematangan (pendewasaan) semata.

 

Para Tokoh Teori Belajar Behavioristik

Tokoh-tokoh utama teori belajar Behaviorisme adalah sebagai berikut:

  1. Ivan Pavlov

Untuk menghasilkan teori ini, Ivan Pavlov melakukan percobaan terhadap anjing. Belajar menurut Pavlov adalah sebuah proses perubahan yang terjadi sebab adanya stimulus yang menimbulkan reaksi. Teori ini juga disebut sebagai aliran pengkondisian klasik (Classical Conditioning).

  1. Edward Lee Thorndike

Thorndike melakukan eksperimen pada kucing yang dimasukkan pada sangkar dengan pintu otomatis. Thorndike berpendapat bahwa belajar merupakan hasil dari proses interaksi antara stimulus dan respon. Teori ini juga disebut sebagai aliran koneksionisme (connectinism).

  1. John B. Watson

Belajar menurut Watson sama halnya dengan Thorndike bahwa merupakan hasil dari proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon-nya harus dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.

  1. F. Skinner

Menurut Skinner belajar merupakan hasil interaksi antara stimulus dan respon dalam suatu lingkungan yang menimbulkan perubahan tingkah laku. Misalnya dalam penerapannya seorang Guru memberi hadiah kepada peserta didiknya sebagai penghargaan nilai paling tinggi sehingga peserta didik itu lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning.

  1. Albert Bandura

Bandura berpendapat bahwa belajar, terutama dalam sosial dan moral merupakan hasil dari meniru (imitation) dan contoh berperilaku (Modelling). Bandura memandang perilaku individu bukan semata-mata hasil dari refleks atas stimulus, melainkan ada juga penyebab lain yakni hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitifnya sendiri.  Aliran ini disebut sosial learning.

 

Premis Dasar Teori Belajar Behavioristik

Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan perubahan tingkah laku hasil interaksi stimulus dan respons, yaitu proses manusia untuk memberikan respons tertentu berdasarkan stimulus yang datang dari luar.

Penganut Teori Behavioristik atau behavioris percaya pada tiga premis dasar:

  1. Belajar dimanifestasikan oleh perubahan perilaku.
  2. Lingkungan membentuk perilaku.
  3. Prinsip-prinsip kedekatan (seberapa dekat waktunya dua peristiwa harus dibentuk untuk ikatan) dan penguatan (segala cara untuk meningkatkan kemungkinan suatu peristiwa akan berulang) sangat penting untuk menjelaskan proses pembelajaran.

Pada hakikatnya teori belajar Behavioristik memandang bahwa perubahan yang terjadi pada individu berdasarkan paradigma Stimulus – Respons. Paradigma Stimulis – Respon atau S-R menyatakan bahwa suatu proseslah yang memberikan dampak balik terhadap apa yang datang dari luar individu tersebut. Maka suatu individu dianggap belajar apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku karena menerima stimulus dari luar.

Stimulus dimaknai sebagai suatu yang dapat dimanipulasi. Memanipulasi lingkungan belajar oleh pendidik merupakan upaya membentuk perilaku peserta didiknya melalui respons yang dimunculkan sebagaimana yang diharapkan dalam tujuan pembelajaran atau tujuan pendidikan.

Proses Stimulus-Respons ini terdiri dari beberapa unsur, yaitu:

  1. Drive (Dorongan)

Peserta didik merasa akan adanya kebutuhan terhadap sesuatu sehingga dirinya terdorong untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

  1. Stimulus (Rangsangan)

Guru memberikan stimulus yang menyebabkan timbulnya respons peserta didiknya.

  1. Respons (Reaksi)

Respons akan muncul dari peserta didik sebagai bentuk balasan dari stimulus yang diterimanya.

  1. Reinforcement (Penguatan)

Guru memberikan kegembiraan atau menimbulkan kebutuhan yang nyata supaya peserta didik tergerak untuk memberikan respons kembali.

 

Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran

Adapun penerapan teori belajar Behavioristik dalam pembelajaran berdasarkan teorinya adalah sebagai berikut;

  1. Menentukan tujuan dan indikator pembelajaran.
  2. Menganalisis lingkungan belajar dan mengidentifikasi pengetahuan awal peserta didik.
  3. Menentukan materi pembelajaran.
  4. Menguraikan materi pembelajaran menjadi bagian-bagian, meliputi topik, pokok bahasan, sub-pokok bahasan dan seterusnya.
  5. Menyajikan pembelajaran.
  6. Memberi stimulus kepada peseta didik.
  7. Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan peserta didik.
  8. Memberikan penguatan baik yang positif maupun negatif.
  9. Memberi stimulasi ulang.
  10. Mengamati dan mengkaji respons dari peserta didik.
  11. Memberi penguatan.
  12. Mengevaluasi hasil belajar peserta didik.

Model-Model Pembelajaran yang berlandasakan teori kontruktivisme diantaranya adalah :

  1. Model Pembelajaran Reasoning dan Problem Solving
  2. Model Pembelajaran Problem-Based instruction
  3. Model Pembelajaran Perubahan Konseptual
  4. Model Pembelajaran Grup Investigation
  5. Model Pembelajaran Inquiri

 

Demikianlah bagaimana penerapan teori belajar Behavioristik. Semoga bermanfaat dan kita para guru dapat menerapkannya dalam tugasnya dalam pelaksanaan pembelajaran.