Lev Semenovich Vygotsky merupakan tokoh penting dalam Konstruktivisme Sosial. Teori belajarnya mampu mengakomodir teori belajar Resolusi-Sosiokultural. Tulisan ini akan membahas teori dan aplikasi teori Vygotsky dalam pembelajaran.

 

Teori Belajar menurut Vygotsky

Menurut Vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi individualnya bersifat derivatif atau merupakan turunan dan bersifat skunder. Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dengan mengkontruksi pengetahuannya. Maka teori vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan konstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang di samping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan sosial yang aktif pula.

Konsep-konsep penting teori Sosio Genesis vygotsky tentang perkembangan kognitif yang sesuai dengan revolusi sosiokultural dalam teori belajar dan pembelajaran adalah adalah sebagai berikut;

  1. Hukum Genetic tentang Perkembangan (Genetic Law of Development)

Menurut vygotsky, kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati 2 tataran, yaitu tataran sosial tempat orang-orang bentuk lingkungan sosial (Interpsikologis atau Intermental), dan dataran sikologis di dalam diri orang yang bersangkutan (Intrapsikologis atau Intramental).

Intermental  merupakan faktor premier dan terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang. Pandangan teori ini menyatakan bahwa fungsi-fungsi hal yang lebih tinggi dalam diri seseorang akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara, fungsi intermental sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.

  1. Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Development)

Vygotsky juga mengemukakan konsep Zone of Proximal Development  (Zona Perkembangan Proksimal).  Kita singkat dengan ZPD. Konsep ini berpandangan bahwa dalam perkembangannya kemampuan seseorang dibedakan dalam 2 (dua) tingkatan, yaitu tingkat perkembangan aktual dan perkembangan potensial.

Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang dalam menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan masalah secara mandiri, disebut juga sebagai kemampuan intramental. Sedangkan, tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau masalah dengan bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten, disebut juga sebagai kemampuan intermental. Jarak antara kedua tingakt kemampuan ini disebut dengan ZPD.

ZPD diartikan sebagai kemampuan atau fungsi yang masih pada proses pematangan. Ibaratnya sebagai kuncup bunga yang belum menjadi buah. Anak berkembang melalui interaksinya dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Untuk menafsirkan ZPD ini menggunakan Scaffolding Interpretation, yaitu memandang ZPD sebagai perancah, sejenis wilayah penyangga atau batu loncatan untuk mencapai taraf perkembangan yang semakin tinggi.

Gagasan ZPD ini mendasari perkembangan teori belajar dan menigkatkan kualitas pembelajaran dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. Kuncinya adalah bahwa perkembangan dan belajar bersifat interdependen atau saling terkait, perkembangan kemampuan seseorang bersifat konteks dependen atau tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan sebagai bentuk benda mental dalam belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.

  1. Mediasi

Hubungan antara lingkungan sosii-kulturak dan proses perkembangan anak dibutuhkan mediasi. Mediatornya berupa tanda maupun lambing-lambang yang menjadi kunci utama untuk memahami proses sosial dan psikologis. Tanda-tanda atau lambang-lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural di mana seseorang berada. Semua perbuatan atau proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan dengan psychological tools atau alat-alat berupa bahasa, tanda dan lambang, atau semiotika.

Ada 2 (dua) jenis mediasi dalam Teori perkembangan kognitif Vygotsky, yaitu media Metakognitif dan mediasi Kognitif. Media metakognitif adalah penggunaan alat Semiotic yang tujuannya untuk melakukan self Regalution (pengaturan diri) yang mencakup; Self-Planning, Self-Monitoring, Self-Chechikng dan Self-Evaluation. Sedangkan media Kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif yang tujuannya memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengetahuan tertentu. Sehingga, media kognitif bisa berupa konsep spontan (yang bisa salah) dan berupa konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya). Menurut vygotsky, untuk membantu anak mengembangkan pengetahuan yang sungguh-sungguh, dengan cara memadukan antara kedua mediasi melalui demonstrasi dan praktek.

 

Tahap Pengkonstruksian Pengetahuan

Berdasarkan uraian di atas, Vygotsky menekankan bahwa pengkonstruksian pengetahuan seorang   individu  dicapai  melalui  interaksi  sosial.  Ada beberapa tahapan pengkontrusian pengetahuan tersebut;

  1. Tahap Perkembangan Aktual  (Tahap  I)

Terjadi  pada  saat  Peserta Didik  berusaha  sendiri  menyudahi konflik  kognitif  yang  dialaminya.  Perkembangan  aktual  ini  dapat  mencapai  tahap maksimum apabila kepada mereka dihadapkan masalah menantang sehingga terjadinya konflik kognitif di dalam dirinya yang memicu dan memacu mereka untuk menggunakan segenap pengetahuan dan pengalamannya dalam menyelesaikan masalah tersebut.

  1. Perkembangan Potensial (Tahap  II)

Terjadi pada  saat  Peserta Didik  berinteraksi dengan pihak  lain dalam  komunitas  kelas  yang memiliki  kemampuan  lebih,  seperti  teman dan guru,  atau dengan  komunitas  lain  seperti orang  tua. Perkembangan potensial  ini akan mencapai  tahap maksimal  jika  pembelajaran  dilakukan  secara  kooperatif  (cooperative learning) dalam kelompok kecil dua sampai empat orang dan guru melakukan intervensi secara  proporsional  dan  terarah.  Dalam  hal  ini  guru  dituntut  terampil  menerapkan teknik  scaffolding  yaitu  membantu  kelompok  secara  tidak  langsung  menggunakan teknik  bertanya  dan  teknik  probing  yang  efektif,  atau  memberikan  petunjuk  (hint) seperlunya.

  1. Proses Internalisasi  (Tahap  III)

Proses  pengkonstruksian  pengetahuan  ini  terjadi  rekonstruksi  mental  yaitu berubahnya  struktur  kognitif dari  skema  yang  telah ada menjadi  skema baru  yang  lebih lengkap. Menurut  Vygotsky merupakan  aktivitas mental tingkat tinggi  jika terjadi karena adanya  interaksi sosial. Setelah memahami  teori belajar Vygotsky yang menekankan bahwa pengkonstruksian pengetahuan seorang  individu dicapai melalui  interaksi  sosial.

 

Keuntungan Teori Belajar Vygorsky

Menurut teori Vygotsky di atas, keuntungan akan diperoleh jika:

  1. Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang.
  2. Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya dari pada tingkat perkembangan aktualnya.
  3. Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermental daripada kemampuan intramental nya.
  4. Anak diberikan kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat digunakan untuk melakukan tugas-tugas memecahkan masalah.
  5. Proses belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal Tetapi lebih merupakan kokonstruksi, yaitu suatu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.

 

Aplikasi Teori Vygotsky dalam Pembelajaran

  1. Pembelajaran kooperatif. Peserta didik saling berinteraksi dan menemukan strategi pemecahan masalah dengan efektif dalam ZPDnya masing-masing. Secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh penting pada perkembangan kognitif Peserta Didik, kerja kelompok secara kooperatif tampaknya mempercepat perkembangan Peserta Didik.
  2. Penerapkan Scaffolding. Dengan memberikan bantuan/bimbingan kepada Peserta Didik pada awal pembelajaran, kemudian Peserta Didik mengembangkan dan mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar apabila ia sudah melakukannya.
  3. Walaupun Peserta Didik terlibat dalam pembelajaran aktif, guru harus secara aktif mendampingi setiap kegiatannya. Dalam istilah teoritis, ini berarti anak-anak bekerja dalam ZPD dan guru menyediakan scaffolding bagi anak selama melalui
  4. Kelompok kerja kreatif. Teman sebaya yang lebih kompeten (peer tutoring), yaitu ada dalam kelompok seorang Peserta Didik mengajari Peserta Didik lain yang tertinggal dalam pelajaran. Satu Peserta Didik bisa lebih efektif membimbing Peserta Didik lain melewati ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu sehingga bisa dengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain dan menyediakan scaffolding yang sesuai.

 

Demikian tentang aplikasi teori Vygotsky dalam pembelajaran. Semoga artikel ini bermanfaat.