15fUkKsZVT9yDgBv50vtln5Ad8Y63wPOAJoCaduz

Cari Blog Ini

Gambar tema oleh Igniel

Laporkan Penyalahgunaan

Gangguan Disleksia pada anak dan 7 cara mengatasinya

gangguan disleksia

Disleksia merupakan salah satu gangguan kesulitan belajar. Umumnya terjadi pada anak-anak. Anak kesulitan untuk membaca dan menulis dengan benar.

Keterampilan membaca dan menulis menjadi fundamental pendidikan dan bekal belajar . Anak akan belajar lebih banyak dengan berbekal kemampuan membaca, menulis dan berhitung.

Ketidakmampuan membaca dan menulis menyebabkan prestasi yang menurun dan terganggunya interaksi sosial anak. Masalah ini harus ditangani sebelum terlambat!

Berikut penjelasan lebih lengkap tentang gangguan disleksia pada anak dan cara mengatasinya.

Apa yang dimaksud dengan disleksia?

Pengertian Disleksia

Disleksia adalah sebuah bentuk gangguan belajar dalam bentuk kesulitan membaca, menulis dan berbicara.

Dapak digambarkan bahwa seseorang anak yang menglami disleksia berhubungan dengan kata-kata atau huruf dan symbol-simbol tulis lainnya yang disebabkan sistem saraf (neurologis) tidak berfungsi dengan semestinya.

pengertian disleksia menurut para ahli

Berikut adalah beberapa pengertian disleksia menurut para ahli;

  1. Benasich dan Thomas (Stendberg, 2006:323) dalam bukunya Cognitive Psychology edisi yang keempat menyebutkan bahwa disleksia adalah kesulitan yang dialami oleh seseorang dalam menguraikan, membaca, dan memahami teks sehingga mengalami penderitaan hebat di sebuah masyarakat yang sangat memprioritaskan kefasihan membaca.
  2. Drs. H. Koestoer Partowisastro dalam bukunya “Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar Jilid 2” (1986:50) menjelaskan bahwa disleksia adalah seorang anak yang mengalami gagal belajar membaca yang diakibatkan karena fungsi neurologis (susunan dan hubungan saraf) tertentu, atau pusat saraf untuk membaca tidak berfungsi sebagaimana diharapkan.
  3. Shaywitz (2008:453) menyebutkan disleksia adalah suatu keadaan pemprosesan input ataupun masukan informasi yang berbeda dari anak normal yang biasanya ditancai dengan kesulitan dalam membaca, sehingga dapat mempengaruhi area kognisi seperti daya ingat, kecepatan pemrosesan input, kemampuan waktu aspek koordinasi dan pengendalian gerak.
  4. Dalam Jurnal yang berjudul Remedial Membaca dengan Metode Fernade Bagi Anak Deklesia disebutkan bahwa disleksia menurut Bryan & Bryan adalah suatu bentuk kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, yang secara historis menunjukkan perkembangan bahasa yang lambat dan hampir selalu bermasalah dalam menulis dan mengeja serta kesulitan dalam mempelajari sistem representasional misalnya berkenaan dengan waktu, arah, dan masa.
  5. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3 (2001:296) dijelaskan bahwa anak disleksia adalah seorang anak yang menderita gangguan pada penglihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf pada otak sehingga anak mengalami kesulitan membaca.

Bagaimana cara mengetahui anak disleksia?

disleksia adalah

Anak yang mengidap disleksia biasanya dapat didiagnosis sendiri.

Secara umum gejalanya termasuk terlambat bicara, lambat dalam belajar kata-kata baru dan kesulitan melafalkan huruf dan terlambat membaca.

Ada hal yang sedikit mengurangi kekhawatiran para orang tua. Bahwa disleksia tidaklah berhubungan dengan kecerdasan. Kondisi seperti ini merupakan gangguan neurobiologis pada bagian otak untuk pemprosesan bahasa.

Gejala disleksia dapat digolongkan berdasarkan usia. Berikut penjabarannya;

1 – 2 Tahun

Anak yang belum mengungkapkan kata pertama antara 15 bulan sampai maksimal 2 tahun mempunyai risiko tinggi mengidap disleksia.

Walau begitu belum tentu, tidak semua anak disleksia mengalami keterlambatan berbicara atau terlambat berbicara mengidap gangguan disleksia. Ini hanya suatu tanda peringatan bagi orang tua.

2 - 5 Tahun

Rentak usia ini anak mengalami masalah mengenal atau mengingat huruf alfabet.

Anak juga kesulitan mempelajari kata termasuk ketika bernyanyi. Mereka salah mengucapkan kata-kata yang familier dan juga pola bernyanyi yang kacau.

5 – 6 Tahun

Pada rentang usia ini penderita disleksia mulai terlihat jelas. Anak tidak mengerti bahwa tulisan kata dapat diungkapkan menjadi suara.

Anak sering salah dalam mengeja dan mengucap kata.

Dampak psikologinya anak akan mengeluhkan tentang betapa sulitnya membaca. Mereka tidak mau lagi pergi ke sekolah.

6 – 15 Tahun

Rentang usia ini anak lambat dan kesulitan membaca. Mereka juga kesulitan mengenal kata-kata baru.

Anak disleksia pada usia ini menolak untuk membaca nyaring, tidak mau menjawab pertanyaan lisan bahkan bergumam saat diajak berbicara.

Anak juga kesulitan mengingat nama benda, hewan atau orang lain. Sulit mengingat tanggal. Bahkan sekedar membedakan kiri dan kanan.

Mereka akan cenderung malas menulis, menulis dengan huruf yang sulit dibaca termasuk olehnya sendiri.

15 Tahun keatas

Usia ini adalah usia sekolah menengah atas dan kuliah. Mereka menghadapi tantangan akademik. Ketika itu membaca cepat dengan pemahaman sangatlah penting.

Mereka menghindara berbicara nyaring. Terlambat merespon pembicaraan, ragu dan sering berhenti, menggunakan “hmm” tentunya dengan kosa kata yang sedikit.

Mereka menganggap dirinya bodoh, meski dengan nilai yang cukup bagus.

Macam-Macam Disleksia

macam-macam disleksia

Tidak ada lembaga resmi yang menggolongkan disleksia menjadi beberapa bagian. Karena kesulitan belajar ini sangat bervariasi, mungkin gejalanya sama tapi jenisnya berbeda atau sebaliknya jenis yang sama dengan gejala yang berbeda.

Berikut 6 macam disleksia;

Disleksia Fonologis (Phonological Dyslexia)

Disleksia jenis ini mengalami kesulitan kesadaran fonemik. Kesulitan untuk mengenal suara huruf, atau suku kata yang menjadi kata kemudian menghubungkannya menjadi kata. Juga sebaliknya memecah suatu kata menjadi suku kata dan menghubungkannya dengan huruf yang sesuai.

Contohnya: BABI dan PAPI, kata pertama merupakan binatang dan kata kedua panggilan untuk ayah. Mereka sulit membedakan.

Disleksia Permukaan (Surface Dyslexia)

Tidak semua kata dilafalkan sebaimana ejaannya. Apalagi dalam Bahasa Inggris.

Penderita disleksia jenis ini disebabkan kesulitan otak mengenali angka, huruf dan kata.

Dalam Bahasa Indonesia juga ada, misalnya Bapak dibaca bapa’. Apalagi Bahasa Inggris yang tidak beraturan pelafalan dan tidak ada petunjuk selain belajar dan mendengarkan.

Disleksia Visual (Visual Dyslexia)

Penderita kesulitan membaca dan mengingat apa yang telah dilihatnya. Jenis disleksia ini mempengaruhi visual (penglihatan), otak tidak memiliki gambaran lengkap apa yang diihat oleh mata.

Dalam implikasinya saat belajar sulit mengenal huruf dan menyusunnya dalam mengeja.

Disleksia Primer (Primary Dyslexia)

Ini maksudnya disleksia yang umum, yakni karena pengaruh keturunan (genetik).

Disleksia primer menyebabkan kesulitan mengenal huruf, angka dan memproses suara. Dampaknya tentu negatif untuk kemampuan membaca dan berhitung.

Pengidap disleksia ini otak kanannya lebih dominan. Jadi selain disebabkan keturunan, sering juga ditemua terjadi pada pria yang kidal.

Disleksia Sekunder (Secondary Dyslexia)

Terganggunya sistem saraf (neurologis) saat masih dalam kandungan bisa menyebabkan disleksia, ini disebut disleksia sekunder.

Disleksia Trauma (Trauma Dyslexia)

Ada juga yang menyebutnya Acquired Dyslexia. Disleksi aini disebabkan karena trauma atau cedera otak.

Saat anak-anak atau dewasa, seseorang mengalami cedera otak karena kecelakaan atau penyakit yang menyerang otak. Sehingga mereka kesulitan dalam memproses Bahasa.

Penyebab Disleksia

Dari berbagai macam disleksia maka bisa kita simpulkan ada 2 (dua) faktor penyebab disleksia, yaitu;

Faktor Genetik

Apakah disleksia keturunan? Pertanyaanini  yang sering ditanyakan.

Ya, tentu saja. Bahkan Kristiani dalam Seminar Nasional Disleksia (31/7/2010) di Jakarta menyebutkan bahwa menurut penelitian penyebab disleksia 70 persen merupakan keturunan.

Faktor Cedera atau Kondisi Lain

30 persennya karena faktor lain, cedera atau sebab lain.

Misalnya masalah ketika lahir, terbentur ketika kecil, atau trauma. Lahir premature. Atau paparan nikotin, alcohol maupun napza ketika dalam kandungan.

Bagaimana cara mengatasi anak disleksia

Cara mengatasi anak disleksia oleh orang tua bisa dengan pencegahan. Bila sudah mengidap maka dengan pengobatan.

Pencegahan Disleksia

Penderita disleksia tidak dapat disembuhkan tapi usaha berikut adalah mengoptimalkan kemampuan membaca dan berbicara anak penderita disleksia.

  1. Memperbanyak waktu membaca.
  2. Menjalin kerjasama dengan sekolah.
  3. Menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan.
  4. Sering membaca buku untuk anak.
  5. Memberikan motivasi kepada anak
  6. Menimbulkan rasa percaya diri. Bisa dengan menghindari mencela anak apabila terjadi kesalahan ketika anak membaca.
  7. Menghargai usaha anak, bukan hasilnya.

Pengobatan Disleksia

Penyakit disleksia tidak bisa disembuhkan. Akan tetapi ada tindakan jika terdeteksi maka perlu tindakan medis oleh para ahli.

  1. Orang tua dan Guru dengan terus melatih membaca dan berbicara dengan metode yang tepat.
  2. Ahli terapi bicara diperlukan untuk menangani orang yang menderita gangguan berbicara dan memahami bahasa.
  3. Psikolog klinis untuk mengobati gangguan mental, terutama dengan terapi bicara.
  4. Ahli Syaraf untuk mengobati gangguan sistem saraf.
  5. Dan Dokter anak dengan memberikan perawatan medis untuk bayi, anak-anak, dan remaja.

Kelebihan anak disleksia

Para Orang Tua jangan berkecil hati.

Kita tidak bisa pandang sebelah mata anak pengidap disleksia. Karena mereka juga mempunyai kelebihan.

Ada beberapa tokoh penderita disleksia, seperti Deddy Corbuzier bahkan pelukis terkenal Leonardo Da Vinci, penemu relativitas Alber Einstein, petinju legendaris Muhammad Ali, penyanyi John Lennon dan masih banyak yang lainnya.

kelebihan anak disleksia

Melihat Gambaran Besar

Mereka yang disleksia melihat suatu hal secara menyeluruh atau holistik. Saat mereka dihadapkan pada sebuah pohon, mereka melihatnya sebagai hutan.

"Seolah-olah orang dengan disleksia cenderung menggunakan lensa sudut lebar untuk melihat dunia, sementara yang lain cenderung menggunakan telefoto, masing-masing yang terbaik dalam mengungkapkan berbagai jenis detail," ucap Matthew H. Schneps dari Universitas Harvard.

Menemukan hal aneh secara detail

Mereka yang disleksia lebih unggul dalam pemrosesan visual global dan pendeteksian angka-angka mustahil. Christopher Tonkin, salah satu ilmuan yangmenderita disleksia menggambarkan kepekaannya terhadap hal-hal yang bukan pada tempatnya.

Dinyatakan bahwa mereka yang menderita disleksia lebih baik dalam mengidentifikasi dan menghafal gambar yang kompleks.

Mengenali pola lebih baik

Mereka yang disleksia memiliki kemampuan untuk melihat bagaimana berbagai hal terhubung untuk membentuk sistem yang kompleks, dan untuk mengidentifikasi kesamaan di antara banyak hal.

Mereka dapat melihat bentuk yang tidak dapat dilihat orang lain.

Bagus dalam ruang 3D

Orang yang disleksia mem[unyai keterampilan yang lebih baik dalam memanipulasi objek 3D. Banyak perancang busana top dunia  dan arsitek menderita disleksia.

Berpikir dengan gambar

Orang dengan disleksia lebih memilih berpikir dan mengungkapkannya melalui gambar daripada kata-kata. Karena anak dengan disleksia mengalami peningkatan memori dengan pengenalan gambar.

Imajinasi mereka dijadikan realita Ilustrasi imajinasi anak dijadikan realita.

Penglihatan periferal lebih tajam

Orang dengan disleksia dapat dengan cepat memotret keseluruhan adegan yang terlihat. Mereka tidak hanya melihat hal pokok dari sesuatu tetapi sampai hal lainnya.

Meskipun sulit untuk fokus pada kata-kata, disleksia tampaknya membuatnya lebih mudah untuk melihat secara luas.

Berpikir strategis dan kreatif

Mereka bisa membangun suatu sistem. Dan menciptakan hal baru.

Ini akan membuat mereka sukses di hari kedepan.

Berpikir out of the box dan memberi solusi

Mereka memiliki wawasan yang luas, sehingga mampu memecahkan masalah dengan pendekatan yang tidak lazim.

Ini disebut sebagai pendekatan intuitif untuk pemecahan masalah yang bisa tampak seperti melamun.


Banyak para penderita gangguan belajar disleksia yang mempunyai kemampuan luar biasa. Mereka memecahkan masalah, inovatif dan kreatif.

Para orang tua dan guru profesional lah tugasnya memperbaiki anak dalam belajar. Semoga artikel gangguan disleksia pada anak dan 7 cara mengatasinya ini bermanfaat.


Pustaka:

Departemen Pendidikan dan kubudayaan/Pusat Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi ke-3). Jakarta: Balai Pustaka.
Shaywitz SE, Morris R, Shaywitz BA. 2008. The Education of Dyslexic Children from Childhood to Young Adulthood. Connecticut US: Department of Pediatrics, Yale University School of Medicine.
Sternberg, R.J. 2006. Cognitive Psychology, Fourth Edition.
Partowisastro, Koestoer. 1986. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar Jilid 2, Jakarta: Erlangga.
Imandala, Lim. 2009. Remedial Membaca dengan Metode Fernade Bagi Anak Deklesia: Jurnal.
Baca juga
badaruzzaman
Saya seorang Guru kelas di SD Negeri Kandangan Kota 1.

Related Posts

Posting Komentar